Baru-baru ini,
ada klaim bahwa ada obat herbal yang dapat menyembuhkan COVID-19. Pernyataan
ini langsung dibantah oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena jamu
tersebut belum lulus uji klinis untuk disebut efektif menyembuhkan COVID-19.
Lantas apa saja
obat herbal yang sudah teruji secara klinis? Bagaimana cara minum obat herbal,
seperti obat herbal asam urat, obat batuk herbal, obat herbal kolesterol, obat
herbal diabetes, obat herbal asam lambung? Yuk, simak penjelasannya berikut
ini.

Cara Memilih Obat
Herbal yang Aman
Obat tradisional
atau biasa disebut jamu banyak dijual di pasaran. Maka anda perlu teliti dalam
memilih obat herbal, berikut beberapa kategori dari obat herbal:
-
Jamu:
klaim khasiat terbukti berdasarkan data empiris
-
Obat
herbal terstandar: klaim khasiat telah terbukti secara ilmiah/praklinis, dan
telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk
jadi.
-
Fitofarmaka:
khasiatnya masih perlu di uji secara klinis.
Obat tradisional
yang diedarkan di wilayah Indonesia WAJIB memiliki izin edar yang diberikan
oleh Kepala Badan POM. Namun, dikecualikan (tidak wajib memiliki izin edar)
untuk produk berikut ini:
-
Obat
tradisional yang dibuat oleh Usaha Jamu Racikan dan Usaha Jamu Gendong
-
Simplisia
dan sediaan galenik untuk keperluan industri dan keperluan layanan pengobatan
tradisional
-
Obat
tradisional yang digunakan untuk penelitian, sampel untuk registrasi dan
pameran, dalam jumlah terbatas dan tidak diperjualbelikan
Rekomendasi Obat
Herbal untuk Tingkatkan Imunitas
Untuk
mendapatkan khasiat obat herbal, kamu bisa mengonsumsi obat-obatan yang sudah
teruji secara klinis. Saat ini Harga Ivermectin sudah banyak beredar di internet.
Masih bersumber
dari BPOM, berikut daftar rekomendasi obat herbal yang dapat meningkatkan
imunitas atau daya tahan tubuh.
Herba Sambiloto
Bahan Herba
Sambiloto yang kering dengan takaran 3 gram, bisa dikonsumsi 2 kali sehari.
Sementara serbuk kering dengan takaran 1,5-3,0 gram, bisa dikonsumsi 3 kali
sehari.
Herba Meniran
Bahan Herba
Meniran yang segar, dengan takaran 45-90 gram per hari dapat dikonsumsi dalam
2-3 dosis atau porsi.
Temulawak
Bahan Temulawak
yang serbuk kering, dengan takaran 3,5 gram per hari dapat dikonsumsi dalam 3
dosis atau porsi.
Kunyit
Bahan kunyit
yang segar, dengan takaran 3,0-9,0 gram per hari dan yang serbuk kering dapat
dikonsumsi dengan takaran 1,-3,0 gram per hari.
Jahe
Bahan jahe yang serbuk
kering dapat dikonsumsi dengan takaran 1,0-4,0 gram per hari.
Jambu biji
Jambu biji ini
dapat dimakan langsung satu buah dengan ukuran sedang.
Cara Penyajian
Obat Herbal
Berdasarkan
bentuk dan jenisnya, ada beberapa cara penyajian obat herbal yang perlu kamu
ketahui, yaitu:
-
Bahan
segar dan bahan kering direbus dalam air mendidih bersuhu 100 derajat Celsius
selama 15-30 menit.
-
Bentuk
serbuk kering dapat diseduh dalam satu gelas air mendidih selama 5 menit.
Rebusan atau
seduhan tanaman herba sambiloto sebaiknya dikonsumsi sebelum makan, sedangkan
seduhan jahe sebaiknya dikonsumsi setelah makan.
Identifikasi Obat
Herbal Berbahaya
Saat ini banyak
beredar obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (BKO) yang bisa
sangat berbahaya untuk tubuh. Nah, karena jumlahnya sangat banyak, tentu kamu
tidak bisa selalu mengandalkan verifikasi dari BPOM untuk mengidentifikasi
kesahihan obat herbal tertentu. Namun, kamu dapat melakukan identifikasi
sendiri dengan memperhatikan ciri berikut.
-
Efek
yang ditimbulkan sangat cepat atau biasa disebut cespleng
-
Dalam
waktu beberapa jam setelah mengonsumsi sakit timbul kembali
-
Produk
diklaim dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit
-
Jika
dilakukan pengamatan saksama terdapat butiran/kristal yang merupakan bahan
kimia yang ditambahkan
Nah, itu tadi cara memilih obat herbal yang aman untuk dikonsumsi. Selalu cari verifikasi dari BPOM atau kandungan yang tertera di label kemasannya, ya supaya terhindar dari risiko kesehatan yang berbahaya.





